Featured

Bersekolah di Tomoe Gakuen bersama Totto-chan

Dokumen Pribadi

 

Judul Buku: Totto-chan Gadis Cilik di Pinggir Jendela

Penulis : Tetsuko Kuroyanagi

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit         : Jakarta

Tahun Terbit      : Mei 2017

Cetakan             : Kedua puluh tiga

Tebal                  : 272 halaman

ISBN                   : 978–979–2–3655–2

Peresensi            : Iif Dwi Lestari*

 

Masih ingatkah kalian dengan masa kecil kalian? Ketika sebagian besar waktu kita habiskan untuk bermain, bermain, dan bermain? Apalagi jika kita habiskan bersama teman-teman sekolah. Tentu mengasyikkan, bukan? Namun, terkadang orang dewasa menganggap anak kecil ‘nakal’, ketika mereka tidak menuruti apa yang dikatakan orang dewasa.

Seperti halnya Totto-chan, gadis cilik yang sekarang naik kelas satu ini, mau tidak mau harus bersekolah di tempat lain. Gurunya menganggap Totto-chan adalah anak yang nakal. Di kelas, Totto-chan lebih gemar berdiri di depan jendela sambil memandangi suasana di luar, daripada mendengarkan penjelasan dari gurunya.

Dari situlah Totto-chan mendapati segerombolan pemusik jalanan, kemudian ia meminta mereka untuk menyanyikan sebuah lagu. Tentu saja hal itu membuat gurunya jengkel. Padahal, apapun yang dilakukan Totto-chan adalah proses dimana sebuah rasa ‘keingintahuan’ dari seorang anak kecil yang sedang berkembang.

Beruntung, Mama Totto-chan adalah pribadi yang penyabar dan penuh perhatian. Mamanya tidak memberi tahu Totto-chan, alasan mengapa dia harus bersekolah di tempat lain. Mamanya hanya menjelaskan bahwa, ada tempat lain yang sangat bagus untuk bersekolah.

Ketika pertama kali tiba di sekolah barunya, Totto-chan terkesima akan gerbang sekolahnya. Gerbang itu tidak seperti di sekolahnya dulu yang terdiri dari pilar-pilar beton. Melainkan berasal dari dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih ditumbuhi ranting dan daun. “Gerbang ini tumbuh, kata Totto-chan. Mungkin akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon! (hal. 19).”

Jika sekolahan pada umumnya terdiri dari kelas-kelas yang dibangun dari batu bata atau sejenisnya dan atapnya dilengkapi dengan genteng, lain halnya denga Tomoe Gakuen. Kelas-kelas di Tomoe Gakuen berasal dari gerbong kereta, ya lebih tepatnya sekolah Tomoe Gakuen adalah ‘Sekolah Kereta’, begitu Totto-chan menyebutnya.

Adalah Sosaku Kobayashi yang menjabat sebagai Kepala Sekolah Tomoe Gakuen. Lelaki yang kerap tertawa meski giginya sudah tak lengkap lagi ini, men-setting kurikulum di Tomoe Gakuen berbeda dengan sekolah lainnya.

Selain gedung sekolahnya yang unik, di Tomoe Gakuen murid diberi kebebasan untuk memulai pelajaran berdasarkan apa yang mereka sukai. Murid-murid akan sibuk dengan pelajaran masing-masing. Tugas guru di sini hanya sebagai fasilitator dan monitor belajar mereka. Tentu saja hal ini begitu aneh bagi Totto-chan. Namun, tak perlu waktu lama, Totto-chan pun menyadari bahwa sekolah di Tomoe Gakuen begitu mengasyikkan.

Banyak kejutan yang didapatkan ketika bersekolah di Tomoe Gakuen. Seusai mengikuti pembelajaran di kelas, semua murid yang hanya berjumlah lima puluh anak tersebut, akan berkumpul di Aula untuk makan siang bersama. Tak lupa Pak Kobayashi selalu memastikan apakah anak-anak membawa “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”. “Sesuatu dari laut maksudnya makanan dari laut, seperti ikan. Sementara “sesuatu dari pegunungan” berarti makanan dari daratan seperti sayuran dan daging. Sehingga, bisa dipastikan murid-murid Tomoe tidak akan ada yang berkata, “Aku tidak suka ikan, daging, ataupun sayur.”

Hal inilah yang membuat para orang tua murid, termasuk Mama Totto-chan, selalu kagum dengan cara Pak Kobayashi mengajak anak-anak untuk makan makanan yang bergizi tanpa susah payah merayunya. Banyak hal yang diajarkan di Tomoe Gakuen seperti bersikap sopan santun, bagaimana menghargai pendapat orang tanpa menyakiti, hingga bertanggung jawab dengan diri sendiri. Semua itu diajarkan secara tidak langsung ketika kegiatan bersama di sekolah.

Di antara kelima puluh siswa, beberapa murid seperti Yasuaki-chan dan Takahashi begitu beruntung bersekolah di sana. Dengan “keistimewaan” yang mereka punya, tidak susah untuk mendapatkan teman ataupun mengikuti pelajaran. Sungguh, mereka semua sama meski berbeda dalam kemampuan fisik. Mulai dari kegiatan makan siang dengan “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”, berenang bersama, mengunjungi kuil, berkemah, hingga berjalan-jalan mengunjungi kebun. Ada satu hal yang membuat bersekolah di Tomoe Gakuen semakin menyenangkan yaitu kelas Euritmik. Euritmik terkenal sekitar tahun 1904. “Euritmik adalah semacam pendidikan tentang ritme atau irama khusus yang diciptakan seorang guru musik dan pencipta lagu berkebangsaan Swiss, Emile-Jacques-Dalcroze (hal. 100).”

Ternyata sebelum mendirikan sekolah Tomoe Gakuen, Pak Kobayashi terbang ke Eropa untuk memperlajari ilmu tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ia berguru langsung kepada Dalcroze di Paris selama lebih dari setahun. Hingga akhirnya, Pak Kobayashilah yang menjadi orang pertama di Jepang yang menerapkannya untuk pendidikan di sekolah.

Selain bercerita tentang kehidupan Totto-chan dan kawan-kawannya di Tomoe Gakuen, buku ini juga bercerita tentang Rocky, si anjing pintar kesayangan Totto-chan, hingga bagaimana keadaan Jepang saat mengalami masa genting ketika perang Asia Timur Raya. Tomoe Gakuen pun menjadi salah satu korban kelamnya peristiwa pengeboman Jepang oleh sekutu.

Buku ini diceritakan dalam bentuk memoar dengan penulis sebagai tokoh utama yaitu Totto-chan. Dengan begitu, seluruh alur cerita tersusun dengan apik karena penulis menguasai semua peristiwa yang terjadi. Bahasa yang digunakan Tetsuko dalam meramu buku ini begitu ‘ramah’ bagi semua kalangan pembaca, sehingga ketika membaca buku ini, pembaca akan merindu dengan masa kecil, khususnya saat duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kalau ditanya tentang bagaimana pesan atau nilai moral dalam buku ini, akan lebih baik bagi pembaca untuk segera membaca dan menjadikannya sebagai koleksi yang harus berada di rak buku. Buku ini begitu luar biasa, sangat baik dibaca oleh semua kalangan mulai dari ibu rumah tangga, pendidik, orang tua, calon pendidik, ataupun anak-anak.

Akhir kata, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama, dengan kurikulum pendidikan yang hampir setiap lima tahun berganti, sejauh mana karakter generasi penerus bangsa terbentuk? Apakah lebih baik? Atau malah semakin tergerus oleh perkembangan zaman?

15 Agustus 2017. Di bawah sinar lampu meja belajar.

*) Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris UINSA angkatan 2014, saat ini sedang mengabdi sebagai Sekretaris Divisi Penelitian dan Pengembangan LPM Solidaritas 2017

(Resensi ini dimuat di web: http://solidaritas-uinsa.org/bersekolah-di-tomoe-gakuen-bersama-totto-chan/)

Advertisements

5 Ide Track Jogging: Anak Kost Perlu Coba!

 

Two men on an early morning run (Google picture)

“Mensana Incorpore Sano”
“Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”

Kesehatan adalah salah satu nikmat yang begitu luar biasa. Dengan memiliki tubuh yang sehat kita dapat beraktivitas seperti biasa. Padatnya aktivitas sehari-hari menjadi alasan kebanyakan orang untuk tidak berolahraga. “Aku kan perlu ke kantor pagi-pagi.”, “Dikejar deadline nih, besok saja ya olahraga?”, “Joggingnya akhir pekan saja ya, kan rame?” “Ah, males nih, kasurnya empuk banget.” dan bla bla bla.

Berolahraga tidak harus menunggu akhir pekan loh, kita dapat berolahraga ringan setiap hari. Melakukan senam ringan, bersepeda, atau pun jogging. Nah, salah satu olahraga favorit penulis adalah jogging. Jogging tidak harus setiap hari loh. Bisa dilakukan 3x dalam seminggu atau 2 hari sekali dengan durasi 20-30 menit.

Berikut ini adalah 5 Ide Track Jogging yang murah dan meriah bagi anak kost, khususnya. Umumnya untuk seluruh umat manusia. Oke, simak langsung saja ya!

1. Kampus
Bagi para mahasiswa, kampus barangkali menjadi rumah kedua. Mulai dari pagi hingga sore bahkan malam, banyak mahasiswa yang masih betah di kampus. Selain tempat menimba ilmu, kampus menjadi saksi aktifnya mahasiswa dalam berorganisasi. Nah, kampus pun bisa kamu manfaatkan untuk track joggingmu. Kamu bisa lari-lari kecil mengelilingi kampus atau jogging di taman kampus. Simple kan?

2. Kompleks Perumahan
Tidak dipungkiri lagi kalau kota besar, Surabaya misal, setiap pagi selalu terjadi kemacetan apalagi di jam kerja. Sibuknya aktivitas lalu lintas menjadi alasan tersendiri untuk malas keluar, ogah kena polusi udara! Nah, kompleks perumahan bisa menjadi alternatif lain. Identik dengan suasana yang tenang, hal ini bisa kamu manfaatkan untuk jogging. Kamu juga bisa jogging sambil mendengarkan MP3 favorit kamu. Selain itu, kamu pun semakin familiar dengan daerah selain kostmu. Dengan melihat macam-macam gaya bangunan rumah, barangkali bisa menjadi referensi rumah masa depan bareng si dia? Ups.

3. Taman Kota
Tentunya kalian sudah tidak asing dengan fasilitas satu ini. Tempat yang diperuntukkan untuk seluruh umat ini menjadi favorit kebanyakan orang. Mulai dari kumpul bareng teman, piknik keluarga atau sekedar duduk-duduk di taman. Biasanya di setiap Kota disediakan taman kota yang tidak memerlukan tarif masuk alias gratis. Kamu pun juga bisa manfaatkan taman kota untuk track jogging. Selain banyak tanaman, area yang bersih membuat kamu nyaman jogging disana.

3. ‎ Area Parkir
Padatnya pemukiman di kota, menjadi hal yang sulit untuk menemukan daerah yang lapang. Jangankan dambaan sebuah lapangan, mau parkir kendaraan sendiri saja harus rela bayar sewa parkir di tempat lain. Iya kan? Khusus untuk track ini, kamu bisa pergi ke tempat yang menyediakan area parkir di luar, contoh pusat pembelajaan Giant. Tempat lain misalnya, area parkir di Masjid Kota. Kalau di Surabaya bisa kamu lakukan di depan Masjid Agung. Nah, berani coba?

5. ‎Trotoar
Bukankah trotoar itu digunakan untuk pejalan kaki ya? Ah, kata siapa? Pedagang pun bisa. Buktinya banyak trotoar yang tiba-tiba berubah wujud menjadi area parkir dan area jualan. Sebel kan ya? Kamu jangan mau kalah deh dengan oknum-oknum begitu. Kamu bisa sulap trotoar menjadi trek jogging. Biasanya, di waktu pagi mereka belum beraksi kok, nah kamu bisa mencuri start dari mereka supaya bisa menguasai trotoar untuk kepentinganmu. Hahaha (ketawa jahat)

Nah, itu deh 5 Ide Track Jogging yang murah meriah. Gimana? Anak kost, apakah kalian masih ingin tidur nyenyak di kasur empuk pagi hari? Oh ya, ketika jogging jangan lupa membawa botol air minum (bukan es atau air putih yang dingin) supaya tidak dehidrasi.

Bagi kamu yang memiliki pengalaman, ide trek jogging lain atau cerita tentang jogging bisa share di kolom komentar yaa^^

Salam sehat!

PS: Tulisan ini terinspirasi dari beberapa tempat yang sering penulis jadikan sebagai spot jogging.

#ChallengeMenulisRutin

Continue reading “5 Ide Track Jogging: Anak Kost Perlu Coba!”

Review Buku: Awe-Inspiring Me

 

 

Judul                 : Awe-Inspiring Me

Penulis             : Dewi Nur Aisyah

Penerbit           : Penerbit Ikon

Kota Terbit      : Jakarta

Cetakan           : Ketiga

Tebal buku     : 231

Tahun terbit  : September 2017

ISBN                 : 978-602-74653-4-3

Perempuan, begitu istimewanya ia hingga disandingkan Surga di bawah telapak kakinya. Sebab mulianya ia, Islam jadikannya sebagai perhiasan dunia. Segala tindak tanduknya menjadi sorotan dunia. Oleh sebabnya, berbahagialah kita, para muslimah,yang hadirnya menyejukkan mata.

Awe-Inspiring Me, sebuah bukti dari seorang Dewi Nur Aisyah, muslimah berprestasi yang percaya bahwa setiap muslimah itu istimewa. Pada setiap diri muslimah, terdapat keistimewaan sendiri yang perlu dikembangkan. Layaknya sebuah tanaman yang perlu dirawat hingga nantinya berguna bagi sekitar. Begitu pula dengan muslimah.

Potret seorang muslimah dapat kita gambarkan dari seorang mahasiswi. Dalam bukunya, Dewi menunjukkan bahwa menjadi muslimah yang kuper (kurang pergaulan)saat ini adalah bukan zamannya lagi. Hijab sebagai indentitas seorang muslimah bukanlah sebuah penghalang dalam meraih prestasi. Nyatanya, beberapa muslimah di dunia meraih penghargaan Nobel dalam bidangnya. Sebut saja salah satunya yaitu, Malala Yousefzai. Muslimah kelahiran Pakistan ini menjadi peraih Nobel termuda di usianya, 17 tahun. Ia berani menegakkan hak perempuan akan pendidikan di negaranya.

Salah satu cara terbaik untuk menjadikan diri tetap bersinar dengan keistimewaan kita adalah dengan merencanakan masa depan kita.

“Cara terbaik kau bisa memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.” (Stephen Cowey)

Dengan menuliskan semua mimpi kita, hal tersebut dapat mempermudah kita untuk menjaga semangat dalam meraihnya. Tak lupa pula, menuliskan beberapa target untuk mencapai goal utama juga diperlukan. Beberapa contoh form untuk menyusun target pun dijelaskan dalam buku. Mulai dari target harian, mingguan, bulanan, tahunan, per semester untuk mahasiswa, dan bahkan target di setiap usia. Tak jauh-jauh, Dewi menjadikan dirinya sebagai role model untuk pembacanya. Semua form dan target yang tertulis dalam buku ini adalah bukti dari pencapaiannya saat duduk di bangku kuliah S-1.

Masa muda adalah masa yang berapi-api, begitulah Bang Roma mendeskripsikan pemuda dalam lagunya Darah Muda. Saat berkesempatan mengeyam bangku kuliah, menurut Dewi, tak hanya aktif dalam bidang akademik, berorganisasi pun memiliki segundang manfaat yang dapat menjadi sarana untuk mengeksekusi skill dan kepekaan kita terhadap lingkungan. Agaknya, agent of change itu layak disematkan pada mahasiswa jika benar-benar dapat mengeksekusinya sesuai tempatnya.

“Life has ups and downs. You will never fully appreciate the ups unless you have some downs.” – anonymous

Layaknya sebuah jalan, ia tak selalu mulus dan lurus. Terkadang kita perlu lewat jalan yang berkerikil, berbatu dan penuh lubang. Tak heran juga jika jalan yang kita tempuh pun berkelok-kelok. Begitulah hidup, tak hanya melulu seputar kebahagiaan. Tentunya dibalik semua kebahagiaan atas pencapaian-pencapaian terdapat kegagalan yang turut serta. Begitu pun dengan buku ini, setelah dijelaskan bagaimana usaha kita (ikhtiar) dalam mencapai cita-cita, beberapa tips dalam kegagalan pun juga disajikan dengan apik. Barangkali melalui kegagalan yang kita alami adalah sebuah bentuk peringatan dari Sang Maha Kuasa ‘tuk senantiasa menyertakan-Nya (tawakkal) di setiap ikhtiar kita.

“Sungguh Allah Tahu… Allah Maha Tahu… Bukanlah hanya dia yang selalu menemani kita? Dialah satu-satunya yang tak pernah letih mendengar dan menyaksikan….. Maka lantunkan ini dalam derai doamu, “Allahu Qowwiy…. Allahu Qowwiy….” (halaman 123)

Selanjutnya, masa muda adalah masa yang rawan hati bergejolak. Bukan hal yang asing lagi ketika membicarakan masa muda dengan asmara. Uniknya, dalam hal ini Dewi menyajikannya secara ilmiah. Mengaitkan gejala-gejala yang terjadi pada muslimah dan kebanyakan pemuda saat jatuh cinta melalui kacamata science.

“Ternyata, cinta itu dipengaruhi oleh beberapa hormon tubuh lho. Ga semata-mata muncul gitu aja. Ada kerja hormon dan redaksi kimia orang yang jatuh cinta.” (halaman 198)

Sebab hormon dalam tubuh kita mudah berubah, layaknya perasaan kita yang tak menentu, alangkah baiknya jika nikmat berupa cinta itu kita sandarkan sepenuh pada-Nya. Kita kembalian kepada Sang Maha Pembolak-balik hati. Biarlah cinta datang pada waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Desain di setiap lembarnya yang berwarna warni dan girly, sangat cocok untuk para muslimah. Yang menjadi poin plus dari buku ini adalah, banyak kisah sukses dari tokoh muslim yang dijadikan rujukan. Buku ini layak untuk dijadikan referensi para muslimah yang selalu ingin meng-upgrade diri. Kata motivasi dan quote dari orang-orang ternama di setiap lembarnya membantu pembaca untuk bisa semakin bersemangat. Tak hanya itu, setelah membaca bukunya, Dewi ingin para pembacanya langsung take action sesuai dengan tips yang telah dijelaskan dalam buku ini melalui lembaran life plan.
Terakhir, saya mengutip kata motivasi dari Mbak Dewi yang patut kita ingat selalu dimanapun berada.

“Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat, pastikan buku itu berarti untuk dibaca.”

PS: Yang penasaran sama Mba Dewi bisa langsung cek di blognya: http://dewinaisyah.wordpress.com

Surabaya, 18/3/2018.

Iif Dwi Lestari

#ChallengeMenulisRutin

Bayu Skak: Kenalkan Budaya Jawa melalui Yowis Ben

 

 

Dari tahun ke tahun, dunia perfilman Indonesia semakin menarik saja ‘tuk dilirik. Terbukti banyak sudah film Indonesia yang mendunia seperti Laskar Pelangi dan The Raid. Tak tanggung-tanggung, latar tempat pun berlokasi di luar negeri, mulai dari Ayat-ayat Cinta, 99 Cahaya di Langit Eropa hingga Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea.

Nah, kali ini saya akan mereview film yang tak kalah serunya dengan film-film diatas. Langsung saja ya, check this out:

yowis-ben-film-2018_1
sumber: google picture

Setelah sukses berakting di Hangout (2016) bersama komika terkenal, Raditya Dika, Bayu Skak pun akhirnya menggarap filmnya sendiri. Dalam filmnya, tak hanya menjadi pemeran utama, Bayu Skak merangkap penulis naskah sekaligus co-sutradara. Tak jauh dengan dunianya, film remaja ini mengangkat genre komedi.  Dibawah garapan Starvison dan disutradarai oleh Fajar Nugros, Yowis Ben resmi mulai rilis pada 22 Februari 2018.

Film ini berkisah tentang sebuah pembuktian para remaja SMA untuk diterima di lingkungannya. Bayu (Bayu Skak) yang tiap harinya menenteng tas yang penuh dengan nasi pecel bungkus menjadikannya dipanggil dengan sebutan Pecel Boy. Saya ingat dengan quote teman saya saat SMA, “Ngomongin masa-masa SMA, kalau gak ngomongin cinta sama aja dengan bohong”, pun dengan kisah percintaan di film Yowis Ben ini, tak akan lengkap jika tak ada romansa di dalamnya.

Demi diakui di lingkungannya, Bayu dan Doni (Joshua Suherman) akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah band. Dengan berbekal poster, mereka berdua berharap ada siswa lain yang tertarik untuk bergabung dalam bandnya. Akhirnya pun posisi drummer diisi oleh Yayan (Tutus Thompson) dan keyboardist berada di tangan Nando (Brandon Salim).

maxresdefault-7

Seperti kisah-kisah band remaja pada umumnya, konflik terjadi karena wanita. Disinilah kekuatan persahabatan mereka diuji. Bayu berada di antara dua pilihan, Yowis Ben atau Susan.

Melirik dari judulnya, film Yowis Ben ini 90% berbahasa Jawa. Bagi teman-teman yang kurang menguasai Bahasa Jawa jangan khawatir dulu sebab, film ini dilengkapi dengan subtitle berbahasa Indonesia. Meskipun hampir pure berbahasa Jawa, khususnya Jawa ketimuran  (Malang), film ini menunjukkan  betapa bangganya Indonesia memiliki  semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dalam hal ini adalah Bahasa Jawa.

Dengan berlatar tempatkan di daerah Malang, film ini secara tidak langsung membantu meningkatkan daya wisata daerah Malang. Terdapat beberapa scene yang menyoroti tempat wisata Malang seperti Alun-alun Malang dan Kampung Warna-warni Jodipan.

Tak hanya menggandeng aktris muda tanah air seperti Cut Meyriska, Arief Didu, hingga Brandon Salim, pelawak legendaris Jawa Timur, Cak Kartolo dan Cak Sapari pun turut mewarnai.

Sebagai penutup, begitu banyak sekali pesan moral yang disampaikan dari film ini. Terbukti, setelah penulis menonton film Yowis Ben, akhirnya ada cara pandang baru yang penulis dapat tentang kata-kata yang sering diucapkan oleh arek Suroboyoan, yaitu Jancuk. Kendati demikian, masih ada rasa bersalah tersendiri ketika mengucapkannya karena tak  biasa. Kini penulis menyadari bahwa kata jancuk bukanlah sebatas umpatan atau yang sering orang persepsikan negatif, melainkan ia adalah suatu budaya.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera tonton filmnya bagi yang belum. Bagi teman-teman yang sudah bisa share di kolom komentar. J

 

Surabaya, 16/3/2018

#ChallengeMenulisRutin

 

 

 

Kisah Manisku bersama “Neko” [Part I]

Mungkin kesan aneh yang pertama kali menghinggapi pikiran kalian ketika membaca judul diatas. Yup, kalimat terakhir yang cukup janggal. Jenis makanan apa ini Neko? Haha, saya juga kurang tau makanan apa itu? Haha (ketawa mulu) yang jelas ini juga bukan Neko-neko alias macam-macam. Neko adalah bahasa Jepangnya kucing atau Pus :D. Sebenarnya cerita ini telah berlalu beberapa tahun, namun demi menjaga kenangan saya bersama neko-neko dan beberapa pemain pendukung yang memilki bermacam-macam karakter jadi saya putuskan untuk mengabadikannya melalui tulisan ini. Okay, fixed!

Jadi, inilah beberapa kisah manisku bersama Neko.

Ketika mulai pindah ke Surabaya (Agustus 2014) untuk melanjutkan misi hidup, yaitu kuliah (Alhamdulillah) tempat yang akan kutinggali selama satu tahun adalah sebuah Rusunawa (Rumah Susun Mahasiswa) yang berlokasi di area kampus. Di kampus saya ada dua Rusunawa yaitu untuk mahasiswa laki-laki dan perempuan. Rusunawa ini lebih dikenal dengan istilah Pesmi dan Pesma alias Pesantren Mahasiswi dan untuk Pesma bisa diganti sendiri kata terakhir menjadi ‘a’. 😀 Syukurnya saya bertempat di Pesmi. Ya iyalah! 😀

Untuk penghuni Pesma dan Pesmi sendiri adalah mahasiswa kampus saya (ya iya lah, masa pinjam mahasiswa kampus lain? xD)  I mean, penghuninya adalah mahasiswa baru yang masih unyu-unyu. Sekarang pun saya masih unyu loh. (Gak ada yg nanya) Tidak semua mahasiswa baru angkatan saya tinggal di Pesma/i, sebab memang jika seluruh mahasiswa baru yang jumlahnya ribuan itu ditempatkan disana pastilah tidak akan cukup. Sampai sekarang pun masih menjadi misteri bagi saya mengenai kriteria seperti apakah mahasiswa yang bisa tinggal di asrama atau Pesma/i. Yang jelas saya sangat bersyukur bisa tinggal di Pesmi.

Bangunan ini terdiri dari lima lantai, yaitu satu, dua, dst. 😀 Kebetulan saya ditempatkan di lantai 4 kamar nomor 31. Saya adalah orang pertama yang datang ke kamar. Kedua adalah Mariya yang asalnya dari Tuban. Ketiga adalah Ikrima dari Gresik dan yang terakhir adalah Nada dari kota Mojokerto, sedangkan saya sendiri berasal dari tempat dimana Pecel dilahirkan.

0100181487
Memakai kacamata pink (Mariya), Bergaya peace (Ikrima), bertopi hitam (Nada), dan yes terakhir (Saya)

Ini kok jadi cerita pengalaman pertama tinggal di asrama atau Pesmi? Mana cerita Neko-nya? Sabar dulu pemirsaaah.

Untuk jumlah penghuninya berapa, secara tepat saya kurang tahu. Sesuai peraturan setiap kamar terdiri dari empat mahasiswa dan setiap lantai pasti ada satu kamar Dewan Mahasantri atau senior yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga anak-anaknya di setiap lantai. Hmmm saya lupa mengenai berapa jumlah kamar dari lantai pertama sampai lantai lima. Hehe. Lantai satu atau lantai dasar terdapat ruang perpustakaan, ruang tamu, loker sepatu, aula, dan ruang khusus untuk kontrol air.

Nah, ini tokoh Neko mulai masuk. Siap siap

Ternyata penghuni di Pesmi bukan hanya para mahasiswa, melainkan ada seekor kucing betina yang sangat lucu. Namanya Pussy. Awalnya, namanya adalah Lupita, namun menurut salah satu Dewan Mahasantri kalau dulunya ada juga mahasiswa yang bernama Lupita, jadi biar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka, maka Si Lupita (kucing) diganti dengan Pussy. Nah, Si Pussy ini hobi sekali mengunjungi kamar-kamar yang ada di Pesmi. Mulai dari kamar di lantai bawah hingga paling atas. Seringnya lagi suka ambil diam-diam lauk teman-teman. Atau terkadang hanya bertandang sebentar ke kamar.

IMG_20150129_055440
Ketika Si Pussy sedang beraksi

Tidak sedikit memang teman-teman yang kurang suka dengan kucing. Saya yakin mereka memiliki alasan tersendiri seperti alergi dengan bulu kucing, trauma, memang geli, atau bahkan takut nanti kalau dicakar, dan yang paling umum yaitu jengkel dengan kelakuannya yang nakal suka ambil lauk di kamar. Yaahh, namanya aja juga kucing. Mereka hanya punya insting yang pasti digunakan untuk memproses sensor penciuman mereka yang tajam. Apalagi kalau ada tanda-tanda makanan, wah itu sensor pasti berkedip-kedip dengan cepat kalau saja ada lampunya. Hehe.

Tapi, banyak juga loh teman-teman yang baik hati memberi Si Pus makanan. Buktinya dia sehat dan badannya juga tidak kurus. 😀

Jadi, Si Pussy ini kerap main ke kamar saya, karena lumayan sering saya dan teman-teman kasih dia makan. Bahkan, sewaktu semua teman kamar pulang dan tinggalah saya sendiri, tiba-tiba saya dibangunkan oleh dia seakan-akan mengingatkan kalau sudah waktunya Shubuh. Ketika saya bangun ee… malah dia yang gentian tidur di kasur saya. Jadi, ini ceritanya bangunin saya tadi ada maunya toh? Eee pinter amat Si Pussy.

Lihat, tidurnya yang nyenyak. Aduh duh tidak bisa diganggu nih.

IMG_20150129_081300

Bahkan, sudah saya senggol-senggol tuh badannya. Eee malah dia ganti posisi yang seperti gini. Haha.

IMG_20150129_092606

Pengalaman yang tak kalah serunya yaitu, ketika Si Pussy tengah berbadan dua alias hamil. Kasihan lihat dia jalan dengan perut buncit. Melihat kucing saja seperti itu ya, apalagi manusia. Hmm, sungguh mulia para ibu yang dengan tulus membawa kita kemana-mana ketika mengandung kita. Yuk, mari kita doakan ibu kita semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah. 🙂

Awal mula Si Pussy masuk kamar sih persisnya saya tidak ingat, yang jelas teman-teman kamar begitu terkejut ketika menarik sebuah kardus kosong di bawah kasur terasa berat seperti ada isinya. Ternyata eh ternyata Si Pussy disitu! Dannnnn dia tidak sendiri, melainkan bersama beberapa bayi kucing. Si Pussy sudah melahirkan! Alhamdulillah. Tapi ini menjadi kehebohan tersendiri bagi kami. Waa… sempat teriak-teriak karena memang kita tidak tahu bagaimana cara memperlakukan mereka dengan kondisi seperti itu. Akhirnya kardus dipindahkan ke tepi dinding dekat dengan pintu. Membiarkan Si Pussy menyususi anak-anaknya. Sayangnya, sewaktu kejadian itu saya tengah tidak enak badan. So, saya hanya memandangnya dari kasur saya. Satu kejadian lagi saat itu, Si Pussy secara tidak sengaja menyenggol mug kesayangan Nada, dan crangg pecah deh. Benar-benar membuat geram.

Akhirnya, satu tahun pun berlalu. Saatnya kita merasakan dunia baru, dunia luar Pesmi. Meninggalkan zona nyaman di Pesmi. Yang pastinya banyak sekali pengalaman, kenangan yang terjadi di kamar 31 selama satu tahun itu. Tentunya kesemuanya tidak terlepas dari peran Si Pussy yang turut mewarnai kenangan kami bersama. Terima kasih Pussy. Kapan hari sewaktu saya lewat di depan Pesmi, saya lihat Si Pussy masih tetap sehat. Alhamdulillah.

Nah, itulah kisah manisku bersama Neko. Tidak hanya sampai disini saja. Masih ada kisah manis saya bersama dengan Neko yang lain. Tunggu Part II dan part lainnya yaaa.

Atau bagi teman-teman yang memiliki kisah bersama kucing bisa share di kolom komentar^^

 

Surabaya

14/3/2018:21.05

Masih di #ChallengeMenulisRutin

 

Kartu Pos: Menengok Hobi Jadul yang Kini Mulai Pudar

mail-love
Dag dig hati ini ketika menunggu balasan surat dari Si Doi—Sumber: Google picture

 

Adakah diantara teman-teman yang masih ingat dengan pelajaran Bahasa Indonesia tentang kegiatan korespondensi atau  surat menyurat? Kapan terakhir teman-teman berkirim surat? Jangan bilang surat terakhir yang kalian tulis adalah surat izin tidak masuk sekolah ya? Atau jangan-jangan malah lupa bagaimana cara menulis surat? Wah, jangan sampai ya kita disuruh kembali mengulang mata pelajaran Bahasa Indonesia, kan sekarang sudah ada internet. Tinggal ketik apa saja, Mbah Google siap membantu.

Nah, pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai kegiatan yang unik, jadul, dan asyik. Sayangnya, belum banyak orang yang mau melirik kegiatan yang satu ini. Apa dia? Ya, selain berkirim surat, berkirim kartu pos kini mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Perkembangan teknologi yang begitu pesat menyediakan fasilitas yang cepat dan praktis. Apalagi sekarang siapa sih yang tidak memiliki media sosial? WhatsApp, instagram, Facebook dan kawan-kawannya seakan-akan menjadi makanan wajib setiap hari bagi pengguna smartphone.

Sebelum mengulik apa itu kartu pos, jangan-jangan diantara kita masih ada yang belum paham apa itu kartu pos? Banyak cerita dari beberapa teman penyuka kartu pos sering curhat kalau temannya mereka masih banyak yang tidak tau kartu pos. Oke langsung saja ya, berdasarkan sumber Wikipedia, kartu pos adalah adalah selembar kertas tebal atau karton tipis berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menulis dan pengiriman tanpa amplop dan dengan harga yang lebih murah daripada surat.

Kartu pos yang pertama di dunia diterbitkan di Austria pada 1 Oktober 1869 dengan nama Correspondenz-Karte. Kartu pos biasanya dikirimkan orang-orang saat berkunjung ke luar negeri sebagai semacam kenang-kenangan yang menandai bahwa mereka telah berkunjung ke negara tersebut.

Beginilah penampakan salah satu sisi kartu pos.

Canada G
Tampak depan: Salah satu koleksi kartu pos saya dari Kanada

Tampilan sisi belakang dari kartu pos yang biasanya digunakan untuk mengirim pesan dan alamat di penerima/pengirim.

Canada P
Ini dia penampakan dari belakang!

Ketika mengirim kartu pos, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan nih, yaitu prangko. Terkadang masih banyak teman yang belum bisa membedakan prangko dengan meterai. Menurut KBBI, prangko adalah tanda pembayaran biaya pos (biasanya berupa kertas persegi bergambar). Sedagkan meterai adalah ap tanda berupa gambar yang tercantum pada kertas atau terukir (terpateri dan sebagainya) pada kayu, besi, dan sebagainya; cap; tera; segel.

Seperti apa sih prangko dan meterai itu? Ini dia penampakannya:

 

Beda dengan meterai, jenis atau gambar pada prangko lebih bervariasi. Dari tahun ke tahun bisa saja meterai memiliki rupa yang sama, yaitu biru atau hijau yang biasa tersedia toko-toko. Lain halnya dengan prangko yang bermacam-macam gambarnya. Suatu prangko akan dicetak terus menerus sesuai dengan tema yang ditentukan misal tema keanekaragaman flora dan fauna, hari besar nasional, cerita rakyat, presiden suatu negara, atau pun nama-nama presiden yang menjabat dari suatu negara.

Prangko biasanya digunakan sebagi alat pembayaran dalam berkirim surat atau kartu pos. Tarif ditentukan berdasarkan jauh dekat antar si pengirim dan penerima.

tabel-tarif-pos-per-2013

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaiman kita mengetahui prangko tersebut layak untuk melunasi biaya kirim kartu pos atau surat kita? Caranya yaitu dengan melihat nominal yang tertera dalam sebuah prangko. Beda dengan meterai yang biasanya hanya memiliki nominal 3000 atau 6000, pada prangko nominal yang biasa digunakan adalah 2500, 3000, 5000, 8000, atau pun 10000. Dengan menjumlahkan nominal sesuai daftar tarif kirim.

Sebenarnya apa sih fungsi kartu pos? Karena kartu pos adalah selembar kertas yang tidak beramplop, tentu saja isi pesan yang tertulis bersifat umum atau bukan sesuatu pesan rahasia/pribadi seperti surat. Biasanya kartu pos digunakan untuk memberi ucapan selamat (tahun baru, ulang tahun, peringatan hari raya, dll) atau pun sekadar bertanya kabar kepada kerabat atau sahabat.

Sampai disini, apakah teman-teman ada yang sudah tertarik dengan kartu pos? Kalau belum, tunggu tulisan saya selanjutnya yang InsyaAllah akan membahas tentang suatu platform yang dapat menghubungkan kita dengan orang-orang yang hobi berkirim kartu pos dari berbagai negara. See ya

 

Surabaya, 13/3/18

Berada dalam satu ruang dengan kipas angin yang sedang berputar

23.42

#ChallengeMenulisRutin

Berguru “Cinta dan Syukur” pada Air

IMG_20180218_111055_HDR

Judul Buku      : The Hidden Messages in Water (Pesan Rahasia Sang Air)

Penulis             : Masaru Emoto

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit      : Jakarta

Tahun Terbit    : November 2017

Cetakan           : Kelima

Tebal               : 106 halaman

ISBN               : 978–602–03–1930–8

Air. Bagaimakah kita selama ini menganggap air dalam kehidupan ini? Sesuatu yang membawa kebahagiaan atau malah sebaliknya, bencana? Ya, air merupakan salah satu nikmat Tuhan yang tiada tara. Tanpa air apalah kita. Semua aktivitas akan terhenti jikalau air tak terpenuhi. Pantas saja banyak orang yang berkata, “Lebih baik aku menahan lapar daripada menahan haus.”

Kenyataan bahwa keberadaan air dalam kehidupan manusia tak dapat dipungkiri lagi. Tanpa kita disadari 70% tubuh manusia terdiri dari air. Dari sini mungkin tak banyak yang menyadari bahwa manusia sendiri adalah manifestasi dari air.

Kebanyakan dari kita sering menganggap air adalah benda mati. Namun, dalam buku ini Masaru Emoto, ilmuwan Jepang yang meneliti kristal air, mengajak kita untuk menyadarkan diri  bahwa air itu hidup. Air dapat “membaca”, “mendengar”, “melihat”, dan “merekam” segala aktivitas yang terjadi di sekitar.

Sebelum membahas detail tentang perjalanan air dan pesan rahasianya, Emoto dalam bab pendahuluan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu menarik untuk disimak.

“Ketika Anda mulai membaca buku ini, saya ingin Anda mengevaluasi hidup Anda. Lebih spesifik, saya ingin Anda bertanya kepada diri sendiri apakah Anda bahagia.” (halaman xiii)

Meskipun terihat seperti kata-kata dalam buku motivasi, kata-kata tersebut sederhana tapi cukup mengena, bukan? Untuk jawabannya sila disimpan dalam diri masing-masing. Kemudian, Emoto mengaitkannya dengan kondisi sekarang yang terjadi di bumi ini. Ternyata alasan mengapa masih terdapat manusia yang tidak bahagia yaitu tidak lain karena chaos atau kekacauan. Lantas siapakah yang membuat kekacauan tersebut? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas kekacauan yang ada?  Jawabannya adalah kita semua. Semua manusia mencari solusinya setiap hari.

Lantas, apa hubungan chaos yang ada dengan keberadaan air? Berdasarkan hasil penelitian Emoto, air yang dipaparkan dengan kata-kata positif seperti “terima kasih”, “kamu cantik”, “ayo kita lakukan” dengan kamera berkecepatan teknologi tinggi, air tersebut membentuk kristal yang begitu indah. Begitu pun sebaliknya, air yang dipapar dengan ucapan bermakna negatif seperti “kamu bodoh”, “lakukan!” akan membentuk kristal yang rusak atau bahkan tak berbentuk.

Kemudian Emoto memperluas sample air untuk penelitiannya. Beberapa air diambil dari berbagai mata air, sungai dan sumber air yang terpapar kaporit dari berbagai belahan dunia. Selain menggunakan kata-kata, Emoto mencoba menguji air yang diperdengarkan dengan berbagai jenis musik. Ketika air diperdengarkan dengan musik Beethoven: Simfoni No.5 dan Simfoni No.6 menghasikan kristal mewah dengan rincian dan ketepatan yang tinggi, menciptakan efek penyembuhan. Pun ketika diperdengarkan dengan musik jenis Heavy-metal membentuk kristal yang mirip ketika dipapar oleh kata “kamu bodoh”.

Selain bercerita mengenai kristal air, beberapa teori tentang pembentukan alam semesta dan teori tentang getaran dan suara pun disinggung dalam buku ini.  Meskipun terdapat beberapa istilah dalam bidang ilmiah yang tidak semua orang pahami, hal ini justru menambah rasa keingintahuan tersendiri yang menimbulkan minat lain untuk mengetahuinya lebih dalam.

Beberapa kisah pertemuan penulis dengan ilmuwan-ilmuwan dunia juga dibagikan disini. Tentang bagaimana penulis mengalami banyak penolakan diawal penelitiannya diceritakan di bagian awal.

Well, satu hal yang menjadi poin plus dari buku ini adalah dilengkapinya beberapa foto kristal air dari hasil penelitian yang memudahkan pembaca dalam pemahaman. Selain itu, terdapat misi religius yang tidak dapat dikesampingkan akan pemahaman pesan Sang air.

“Saya mengerti bahwa beberapa orang mengalami kesulitan dengan kata atau konsep Tuhan. Fokus utama di dalam buku ini adalah air. Dan semakin Anda mengerti air, semakin sulit Anda menolak eksistensi Tuhan.” (halaman xi)

Membaca buku ini membuat kita untuk semakin sadar akan pentingnya berprasangka baik, menyebarkan kebaikan dan kepedulian antar sesama. Tentunya rasa syukur pun akan mudah kita ucapkan pada Sang Maha Kuasa atas segala kuasanya. Alam begitu luar biasa.

Akhirnya, satu hal yang akan menjadi kesimpulan dari buku ini adalah sebuah jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang ada. Jawaban dari sebuah chaos yang terjadi yaitu, air yang membentuk kristal terbaik diantara kristal-kristal lain adalah air yang terpapar dari ungkapan “cinta dan syukur”. Tentunya dari sini kita bisa melihat bahwa melalui buku ini Emoto berharap “cinta dan syukur” itu ada pada tiap diri manusia.

Sudahkah Anda berterima kasih pada air(diri sendiri) hari ini?

 

Surabaya, White Castle Kost.

12/3/2018:22.54

#ChallangeMenulisRutin

Kamu sudah ngapain aja?

IMG_20180122_130035
Seekor anak rusa di Taman Flora, Bratang Surabaya.

 

 

“Kamu sudah ngapain aja hari ini?”

“Em, apa ya?” sambil garuk-garuk kepala meskipun ga terasa gatal.

“Selain main hape?”, tanyanya sambil merapikan beberapa komik yang berserakan di kasur.

“Eh. Hehehe. Kayaknya ga ada. Seingatku aku udah cuci muka tadi.”

“Oh ya? Bagus dong, setidaknya kamu masih peduli dengan wajahmu sendiri.” kemudian mulai berdiri dan berjalan keluar kamar.

Aku mencoba berhenti memainkan hapeku. “Em, aku kenapa ya?”—“Bodoh! Aku ga kenapa-kenapa kali! Dianya aja yang aneh.” kataku dalam hati.

“Nih, buat kamu!”  sambil menyodorkan gagang sapu lantai.

“Hee, buat apa?”

“Buat nangkap capung. Kamu lupa? Bukannya hari ini kita ada jadwal ke museum yang kamu inginkan kemarin?”

“Ha! Oh iyaaa. Aku kok kelupaan ya? Oke deh, aku segera selesaikan tugasku. Terus kita buat bekal bareng ya? Terus mandi dan cus berangkat. Gimana? Oke kan rencanaku?”

“Bekal sudah aku taruh di tas. Aku sudah mandi. Dan sekarang sudah pukul 9.”

-____-

Ayah

Ini Bapak kami 🙂

Ayah adalah sosok lelaki yang pertama kali dalam hidupku. Dia mengajarkanku makna sebuah kehidupan. Dia yang selalu memarahiku saat aku melakukan kesalahan, walaupun sekecil apapum kesalahanku. Dan dia juga yang selalu bangga saat aku melakukan kebaikan sekecil apapun.

 

Ayah, aku tau kau memarahiku setiap harinya itu hanya kau tak ingin suatu hari nanti aku sepertimu. Engkau ingin aku tumbuh besar dan menjadi seorang yang lebih baik darimu. Tapi, aku tak menghiraukan perkataanmu. Sering aku marah saat kau mencoba menasehatiku.

 

Entahlah, aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranku sehingga aku sejahat itu kepadamu Ayah. Lewat tulisan ini aku ingin mengungkapkan isi hatiku padamu Ayah. Aku tak ada maksud membuatmu marah, kecewa setiap harinya hanya karena kenakalanku.

 

Andai kau tahu Ayah, aku sangat menyayangimu. Aku ingin membanggakanmu Ayah, membuatmu kagum dengan prestasiku. Dalam setiap do’aku terselipkan namamu yang selalu kuucapkan dalam rasa syukurku. Aku berusaha menjadi anak yamg kau ingingkan. Menjadi contoh yang baik bagi sesama kita.

 

Ayah engkaulah pahlawan hatiku. Engkau bagaikan sebuah “kursi” walaupun sederhana tapi menguatkanku. Tempat dimana aku bersandar dalam keluh kesahku. Dan engkau mau merelakan waktu-waktumu demi aku. Ayah engkau pahlawan hati kecilku yang selalu membuatku bersemangat menjalani masalah yang ada. Dan engkau juga yang memberi solusi terbaik untukku. Ayah pahlawan hati kecilku tak kan kulupakan apa yang telah kau ajarkan kepadaku. Terimakasih Ayah aku sangat menyayangimu.*

 

PS: Ini adalah tulisan adik saya, Ulul Tri Utami. Sekarang dia duduk di banku kelas IX di MTsN Rejosari, Madiun.

*)Tulisan ini pernah diikutkan dalam Lomba Menulis: Ayah Aku Rindu yang diadakan oleh Vemale.com

Si Habichtskauz

Kyaaa!!! Awas ada burung hantu dataaaang….. Hehe. Burung hantu ini bukan sembarang burung hantu loh. Burung hantu ini istimewa karena dia terbang dari Jerman. Melewati berbagai negara dan benua. Istimewanya lagi, dia terbang bukan karena sayapnya melainkan bantuan dari para kurir Pos. Yah, namanya juga kartu pos yang bergambar burung hantu. Hehee

Yup, kali ini tamu saya adalah Si Habichtskauz atau bahasa Jawanya adalah Burung hantu Ural (Strix uralensis). Burung hantu Ural adalah burung hantu yang berukuran sedang. Burung yang aktif di malam hari ini berasal dari Genus Strix dengan hampir 15 subspesies ditemukan di Benua Eropa dan Asia bagian utara. (Wikipedia)

Dan beginilah penampakan Si Habichtskauz yang sedang terbang:

The Ural Owl

Dibalik gambar cantiknya, ada sebuah teka-teki ya mesti saya pecahkan. Ya, (maaf) tulisan tangan dari pengirim agak susah dibaca. Beruntungnya saya adalah orang yang mudah mengenali tulisan atau membaca tulisan tangan meskipun tulisannya unik-unik 😀 (Setidaknya begitulah saya dibandingkan dengan teman-teman ketika saya minta untuk membaca tulisannya)

Ini teka-tekinya 😀

Bagaimana? Kalian bisa baca kan? :p

Diantara pesan dan prangko terdapat tembok pembatas yang dibangun dari washi tape yang bergambar hewan kesayangan, kucing. Hihi. Ada juga sebuah stiker bunga di pojok kiri atas pesan. Cantikk.

Nah, untuk prangkonya ada dua jenis. Satu dengan gambar anak bebek (atau angsa) atau Tierkinder Graugans dengan nominal 70. Dan satunya Hasenglockchen atau nama ilmiahnya Hyacinthoides atau Bunga Lonceng Biru dengan nominal 20.

Ternyata Bunga Lonceng Biru ini cantik sekali loh. Dan bunga ini juga dikaitkan dalam kehidupan dongeng, bunga yang berbentuk lonceng ini diceritakan sebagai tempat tinggal para peri. Well, meskipun cerita peri itu hanya fantasi. 😀

Sumber: google image—- Cantik kan ya?

PS: Kartu pos ini saya terima pada tanggal 6 November 2017.

Potret Seorang Artis dari Siberia

Di bulan November ini saya mendapatkan 6 kartu pos official dari Postcrossing . Dan ini adalah kartu pos* pamungkas yang saya terima. Beginilah wajah cantiknya:

Kartu Pos dari Rusia

Ceritanya, Pak Vladimir ini adalah seorang artis, lebih tepatnya seorang penari dari Siberia (wilayah yang luasnya 75% dari Rusia). Gambar yang ada di kartu pos tersebut adalah potret beliau di depan Opera dan Ballet theater. Beliau sedang menarikan tarian Snow Sylph di depannyaDan waw benar sekali, dengan kartu pos saya belajar banyak hal, terutama tentang kebudayaan suatu negara. 🙂

Yeay! Artis.

Penasaran dengan kata “Snow Sylph Dancing” atau Tarian Bidadari Salju akhirnya saya search di yutup, dan yang keluar malah absurd semua -_- . Padahal ingin sekali melihat tarian itu. Semoga suatu saat diberi kesempatan melihat langsung tarian itu. Aamiin. 😀

Bagus gambarnyaa

Bicara mengenai prangko yang digunakan Pak Vladimir, ada 2 buah. Pertama, prangko yang bergambar seekor rusa dengan nominal 5.00 Rubel. Kedua adalah prangko dengan bergambar seorang laki-laki dan perempuan dengan nominal 35 Rubel Rusia. Sayangnya saya belum paham dengan Bahasa Rusia, jadi tidak bisa menangkap gambar apa sebenarnya di prangko itu (syediih). Jadi, kalau ditotal prangko yang digunakan adalah 40 Rubel Rusia atau setara dengan Rp. 9184,09.

 

*) Kartu pos ini saya terima tanggal 23 November 2017